my city identity

November 16, 2009

Kota yang Mahal

Filed under: good city form — arniarnie @ 1:53 pm
Tags: ,

Katanya kota itu adalah tempat tinggal yang bisa meningkatkan kualitas hidup warganya. Tapi coba lihat kota saya, dia kini sedang ‘diguncang’ pemilik dana untuk dibangun sebanyak-banyaknya bangunan: ruko, mall, rumah, town house, toko, jalan.. tanpa ada ruang publik yang hijau, yang bisa disambangi kala penat melanda atau ingin bersenda gurau dengan teman.

Semua kebutuhan itu hanya bisa dipenuhi di pusat perbelanjaan.. ruang tertutup ber-AC dan dipenuhi gerai makanan dan kafe (yang tak murah). Jadi, sekarang kalau hanya mau bertemu teman lama harus menyediakan uang setidaknya Rp. 100.000,- (kalau mau tempatnya nyaman). Bukan jumlah yang sedikit bagi mereka yang masih jobseeker atau masih sekolah. Hanya untuk ketawa-ketiwi dan bercerita masa lalu pun harus mengeluarkan uang sebesar itu?

Coba bayangkan di tengah kota ini ada ruang hijau (semacam taman kota) yang disediakan lapangan olahraga, arena bermain, tempat-tempat duduk, dan ruang jajan. Mungkin hanya butuh uang Rp. 10.000,- untuk beli minuman dan makanan ringan. Kangen dengan teman terlunasi dan tempat nyaman pun terpenuhi. Tapi…apa mungkin ini terjadi?

Kalau kota yang seperti ini hanya ada di angan saja, sepertinya saya harus beranjak dari lamunan ini.

Dan menghadapi realitas: kota yang mahal..

 

 

2 Comments »

  1. kalo di pikir2, di jakarta jarang banget ada public property yang di own sama pemerintah, yang bisa di jangkau sama rakyat2 biasa.
    yang bisa kepikir saat ini cmn monas sama taman mini indonesia indah (udah bener2 lupa apa isinya tuh TMII).. tp jujur, siapa yang sekarang ke daerah sono sekarang??(gw bahkan blon pernah ke monas –“) culture orang jakarta sekarang, kita selalu ke mall. karena itu, makin banyak lah mall di jakarta, dan makin dikit lah fasilitas2 yang selain mall, karena emang kaga ada yang pergi. yang ada di jakarta tuh ‘private’ space, yang buat orang public (mall). bukan bener2 public space, misalnya taman, dll… dan karena the ‘public’ space itu sebenernya tuh punya nya ‘private’ group, then ya jadi mahal, ya karena tentu aja mereka mao dapet keuntungan sebanyak2nya…
    dan untuk saat ini, gw gak bisa liat pattern ini akan berubah…

    Comment by orangcakep — September 21, 2010 @ 8:28 pm | Reply

    • Hai orangcakep😉

      Kira-kira setahun yang lalu saya ke TMII. Isinya antara lain museum,akuarium air tawar,rumah2 adat, teater keong mas. Dan semua itu harus bayar lagi untuk masuk di tiap wahana (ngga seperti di Dufan yang tersedia tiket terusan).

      Jadi, untuk dua orang kira-kira bisa habis 100 ribu/orang hanya tiga wahana (teater, akuarium, beberapa museum). Dengan catatan, bawa makanan sendiri ya. Ada sih ruang publik yang murah: Ragunan. Dengan biaya kurang lebih 10.000 per orang, kita bisa puas menikmati hawa segar dan hewan-hewan. Ya, meski murah ada tapinya. Kalau kita jalan hanya berduaan, pasti ditawari “tikar..tikar..Lima ribu saja..”

      Mengenai private group, sebenarnya mereka punya dana tanggungjawab sosial. Dan itu bisa diwujudkan dengan membangun taman kota, ya (kalau mau..dan kalau masih ada lahan ;p)

      Salam.

      Comment by arniarnie — December 2, 2010 @ 2:22 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: