my city identity

May 10, 2008

Vitalitas (Vitality)

Filed under: good city form — dayutiwi @ 2:36 pm
Tags: , , , ,

Vitalitas (Vitality)

Suatu lingkungan adalah habitat yang baik bila dapat mendukung kesehatan dan fungsi dari individu dan keberlangsungan spesies. Kriteria ini memfokuskan diri kepada lingkungan ruang alamiah yang mempunyai akar karakter universal biologi manusia sehingga mempunyai kesamaan dalam budaya yang berbeda-beda.

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam vitality :

  • SustenanceDenpasar adalah ibukota propinsi Bali, yang terletak di bagian selatan dari Pulau Bali. Dataran rendah di bagian selatan lebih lebar bila dibandingkan dengan dataran rendah di bagian utara. Kondisi alam seperti ini sangat berpengaruh terhadap iklim di dataran rendah ini. Umumnya wilayah Bali bagian selatan turun hujan lebih banyak dari bagian utara terutama pada bulan Desember hingga Februari. Pada periode itu angin bertiup dari arah barat dan barat laut, sedangkan pada bulan Agustus angin bertiup dari arah timur dan tenggara. Pada bulan Maret sampaiNovember angin bertiup berubah-ubah arah, dengan rata-rata kecepatan angin berkisar antara 5,5 – 8,5 knot. Sedangkan curah hujan berkisar antara 0,0 – 425,4 mm dengan iklim laut tropis, yang dipengaruhi oleh angin musim. Rata-rata suhu maksimum berkisar antara 29,8 oC – 33,4 oC dan rata-rata suhu minimum berkisar antara 21,9 derajat C – 32,5 derajat C. Temperatur tertinggi terjadi di bulan Nopember dan terendah di bulan Juli dengan rata-rata kelembaban udara antara 73,3 hingga 82,1 persen.Bila ditilik perkembangan keadaan iklim di Provinsi Bali selama tiga tahun terakhir terlihat bahwa rata-rata suhu berkisar antara 27 sampai 28 oC dengan kelembaban udara yang mengalami penurunan dari 83,42 % menjadi 77,15%. Penurunan kelembaban udara ini menunjukkan bahwa curah hujan di Bali mengalami penurunan serta mengindikasikan bahwa musim panas di Provinsi Bali lebih panjang dibanding musin penghujan. Hal ini terlihat dengan curah hujan yang terjadi di Bali, dimana pada tahun 2000 curah hujan mencapai 235,71 mm/th sedangkan pada tahun 2002 curah hujan hanya mencapai 120,55 mm/th.Walaupun terdapat kecenderungan penurunan curah hujan di kota Denpasar, tetapi keadaan ilkim masih nyaman bagi penduduknya untuk tinggal disana. Keadaan kesehatan secara umum dapat dikatakan meningkat, hal ini dapat dilihat dari alokasi sarana kesehatan dan tenaga kesehatan yang cukup merata. Puskesmas pembantu diletakkan dilokasi yang padat penduduknya dan daerah-daerah yang sulit dijangkau. Selain Puskesmas-puskesmas juga terdapat 16 Rumah Sakit terdiri dari 3 buah Rumah Sakit Pemerintah, 12 Rumah Sakit Swasta dan 1 buah Rumah Sakit Angkatan Darat serta telah tersedia Apotik yang berjumlah 18 buah. Tenaga Dokter 211 orang terdiri dari Dokter Umum 121 orang dan sisanya 90 orang Dokter Ahli seperti Bedah, Jantung, Kandungan dan Ahli lainnya.
    Program Keluarga Berencana adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah untuk mengatasi masalah kependudukan dan untuk mewujudkan terciptanya Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera.
    Jumlah Penduduk Kota Dati. II Denpasar berdasarkan hasil Sensus Penduduk 1980: 261.263 jiwa, sedang tahun 1990: 388.444 jiwa.
    Angka Kematian telah dapat diturunkan dan hal ini mempunyai dampak terhadap turunnya angka pertumbuhannya rata-rata 4,45 % periode 1980 – 1990 menjadi 3,01 % dalam periode 1990 – 2000. Pada tahun 2001 persentase peserta KB aktif terhadap Pasangan Usia Subur 81 %. Untuk mendukung pelaksanaanya terdapat 44 Klinik Keluarga Berencana, disamping tersedia pula sarana KB lainnya seperti pelayanan KB melalui Dokter/Bidang Swasta (BDS), Rumah Sakit dan lain-lainnya. Keberhasilan KB banyak ditunjang oleh peranan Banjar sebagai wadah kegiatan dalam melakuan pendekatan terhadap masyarakat.
    Disamping itu berbagai kelompok masyarakat secara terorganisir ikut memberikan peranannya seperti Seniman, Organisasi Wanita, Sekehe Teruna Teruni, ZPG dan sebagainya.

    Kesimpulan : melihat dari kedua gambaran di atas, sustenance di kota Denpasar dapat saya katakan cukup baik.

  • KeamananSuatu lingkungan yang baik adalah dimana bahaya (hazard), racun dan penyakit tidak ada atau terkontrol, dan ketakutan akan bahaya-bahaya tersebut rendah. Dengan kata lain, lingkungan harus aman secara fisik.
  • Consonance

Lingkungan keruangan harus harmonis dengan struktur dasar biologis manusia. Jadi harus memenuhi syarat-syarat ergonomis (perencanaan desain yang memperhitungkan faktor kenyamanan manusia). Dalam kasus kota Denpasar, menurut pengamatan saya secara umum perencanaan bangunan masih mengikuti pedoman arsitektur tradisional Bali yang mementingkan pengukuran menurut ukuran badan manusia, hasta kosala-kosali. Dari segi skala tinggi bangunan terhadap lebar jalan, atau D/H, tinggi rata-rata bangunan di Denpasar adalah 1-4 lantai. Bangunan perumahan rata-rata mempunyai tinggi 1-2 lantai, sedangkan kantor-kantor pemerintahan maupun ruko rata-rata mempunyai tinggi 4 lantai. Lebar jalan protokol (Jalan Gajah Mada) kira-kira 20m (2 lajur). Sehingga D/H = 20/16= 1,25. Sedangkan di daerah permukiman lebar jalan kira-kira 8m (2 lajur), sehingga D/H = 8/8=1. D/H antara 1-1,25 mengindikasikan bahwa skala ruang yang ada bersifat ideal bagi skala manusia.

  • Makhluk hidup lain

Bila kriteria ini diterapkan pada makhluk hidup lain, maka aspek yang perlu diperhatikan adalah seberapa baik lingkungan dapat mendukung kesehatan dan penyebaran spesies yang berguna bagi manusia. Dengan adanya urbanisasi yang cukup pesat, menurut pengamatan penulis kota Denpasar saat ini kurang mendukung sebagai tempat budidaya peternakan maupun pertanian, terbukti dengan banyaknya lahan-lahan pertanian dalam kota yang akhirnya tergusur oleh pembangunan.

  • Stabilitas

Baik pada masa sekarang maupun masa depan komuniti ekologi. Sebuah seminar internasional tentang Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan Bali yang diselenggarakan Bali-HESG (Kelompok Studi Ekologi Manusia) pada tahun 1990 mengidentifikasi enam permasalahan pokok yang dapat mengancam kesinambungan hidup pulau ini. Keenam permasalahan tersebut dikelompokkan menjadi tiga hal yaitu : lingkungan-meningkatnya persaingan sumber daya alam terutama air dan lahan, dan meningkatnya kerusakan lingkungan; sosial-distribusi pendapatan ekonomi yang tidak merata dan dislokasi budaya atau tekanan terhadap budaya, tatanan sosial dan nilai-nilai tradisi masyarakat Bali; dan manajerial-sistem pengelolaan yang lemah dan terbatasnya dana untuk pembangunan. Sehingga, perlu diwaspadai kemampuan stabilitas pendukung lingkungan di Kota ini pada masa depan.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: