my city identity

May 10, 2008

kepekaan (sense)

Filed under: good city form — dayutiwi @ 2:39 pm
Tags: , , , ,

Kepekaan (Sense)

Definisi kriteria :

Meliputi bentuk, kualitas dan identitas lingkungan. Hal tersebut dapat dicapai melalui sense of place dengan desain bentuk yang khusus atau suatu kegiatan yang menyentuh hati masyarakat; struktur, suatu rasa yang diciptakan melalui orientasi bentuk-bentuk, landmark, tingkatan tertentu, waktu kejadian, jalan setapak, atau batas pinggiran yang ada.

Maka Lynch menyebutkan sifat dari kriteria ini adalah :

  • Kecocokan (congruence) suatu rangkaian ruang-ruang yang memiliki fungsi yang erat;
  • Transparansi (transparency) segala cara penggunaan teknologi dapat dilakukan secara langsung, baik yang berkaitan dengan kegiatan sosial maupun proses alami.Cara mencapai kriteria :Karena kualitas sense adalah hubungan antara pikiran dan lingkungan fisik, cara mencapainya dapat dibagi dalam 2 cara :
  • merubah bentuk fisik kota
  • merubah konsepsi mental penghuninya

Cara menganalisis kriteria :

Dalam menganalisa sense, kita dapat menganalisa aspek-aspeknya :

1. Secara eksplisit :

  • Identity

Identitas adalah sejauh mana seseorang dapat mengenali suatu tempat sebagai berbeda dari tempat-tempat lain, mempunyai karakter sendiri yang gampang diingat, unik, atau berbeda.

Tempat yang bagus adalah tempat yang dapat diakses oleh semua indera perasa manusia.

Cara pengukuran dan analisis : tes sederhana mengenal, mengingat, dan mendeskripsikan suatu tempat yang ingin kita uji.

Foto di atas adalah identitas kota Denpasar yang sangat melekat dalam pikiran saya. Foto tersebut menggambarkan salah satu sudut Jalan Gajah Mada, yang merupakan jalan protokol di kota ini dengan toko-tokonya yang telah dibangun pada zaman Belanda. Arsitektur pertokoan ini hanya sedikit mengalami perubahan, hanya mengalami penambahan ornbamen pada kolom dan balkonnya. Jalan ini adalah tempat perbelanjaan bagi penduduk lokal, dimana terletak Pasar Badung dan Pasar Kumbasari-pasar tradisional terbesar di kota ini. Bagi saya, inilah citra kota Denpasar yang paling melekat. Bukan citra sebagai kota turis, melainkan kota kecil dengan jajaran tokonya yang kuno.

  • Structure

Arti dalam skala kecil : bagaimana bagian-bagian kecil menyatu membentuk keutuhan bentuk tersebut.

Tes : dengan mensketsa dan membuat peta, deskripsi tentang rute tertentu, wawancara, perkiraan jarak dan arah, dan teknik2 lain.

Arti dalam permukiman skala besar : orientasi, yaitu mengetahui dimana seseorang berada pada saat tertentu, yang mengimplikasikan pengetahuan bagaimana tempat (dan waktu) berhubungan dengan tempat tersebut.

Tes : dengan menanyakan penghuni untuk membuat hubungan sementara, membuat estimasi waktu atau jarak waktu, mendeskripsikan masa lalu dan masa depan tempat tersebut.

  • Congruence

Definisi : kecocokan antara struktur ruang dan struktur bukan ruang.

Dengan kata lain, apakah bentuk abstrak dari suatu tempat cocok dengan bentuk abstrak dari fungsinya, atau ciri-ciri masyarakat penghuninya?

  • Transparency

Sampai sejauh mana penghuni dapat menangkap operasi dari berbagai fungsi-fungsi teknis, aktivitas, proses-proses sosial dan alami yang terjadi dalam permukiman.

Menonton prosesi upacara Bali. Denpasar. Foto menunjukkan seorang wanita penjaga toko di salah satu jalan protokol denpasa, dengan pakaian jeans dan t-shirt menonton arak-arakan upacara yang lewat di depan tokonya.

Tidak di semua tempat pemandangan seperti di atas dapat kita saksikan. Kegiatan ekonomi dan religius berjalan dengan transparan, dapat dilihat oleh setiap orang.

  • Legibility

Sampai sejauh mana penghuni suatu permukiman dapat berkomunikasi secara akurat satu sama lain menggunakan bentuk-bentuk fisik yang simbolik. Contoh : bendera, halaman rumah, papan pengumuman, kolom, pintu gerbang, dsb. Tanda2 ini memberi informasi pada penghuni lain tentang : kepemilikan, status, afiliasi kelompok, barang dan jasa, tingkah laku yang sebaiknya, fungsi-fungsi tersembunyi, dsb.

Struktur sosial yang didominasi oleh kultur agraris yang homogen menimbulkan keseragaman dalam kebutuhan akan bangunan. Masyarakat Bali secara tradisional sudah terbiasa bergotong royong dalam segala hal termasuk dalam pembuatan bangunan, sehingga hasil perwujudan arsitekturnya pun termasuk homogen. Namun perbedaan tampak tetap ada karena dalam realitas keseharian terjadi pengelompokan masyarakat berdasarkan strata sosial atau jabatan tradisional yang m,ensyaratkan perbedaan dalam tata ruang dan pemakaian elemen arsitektur, agar status sosial pemilik suatu bangunan secara visual dapat dengan mudah dikenal. Misalnya rumah seorang kasta tinggi yang disebut puri atau jero langsung bisa dikenali karena ukurannya yang besar dan ornamennya yang pernik dibandingkan dengan rumah-rumah lain. [1] Dengan demikian masyarakat Bali telah menganut prinsip legibility ini secara tradisional.

2. Secara implisit:

  • Significance

Sampai sejauh mana bentuk permukiman tertentu menyimbolkan nilai-nilai dasar , proses kehidupan, atau siklus alam semesta bagi para penghuninya?

Secara makro, tata ruang yang diterapkan dalam perencanaan arsitektur di Bali saat ini benar-benar mengacu pada kebiasaan penataan ruang daerah urban. Tidak ada lagi ruang makro yang dirancang mengikuti pola lama yang cenderung religius seperti misalnya pola pempatatan agung sebagai main core dari suatu tatanan fisik lengkap dengan fasilitas pura sebagai fasilitas rohani, puri sebagai pusat kendali pemerintahan, dan alun-alun sebagai ruang terbuka untuk aktivitas massal masyarakat. Pola sederhana semacam ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk mewadahi kompleksitas sosial ekonomi masyarakat sekarang.

Namun secara mikro, penataan ruang dengan mengikuti pola tradisional masih dipatuhi, terutama oleh mereka yang masih mengusung budaya Bali atau mereka yang memiliki cukup lahan untuk menerapkan pola tata ruang tradisional Bali yang cenderung menuntut lahan besar. Itu pun pada umumnya tidak diikuti secara menyeluruh hanya sebatas menempatkan unit-unit yang dianggap paling penting di dalam suatu compound pada posisinya yang benar menurut aturan tradisional.

Sehingga dapat saya simpulkan bahwa masyarakat Bali pada umumnya masih mementingkan significance dalam bentuk permukimannya. Ini juga berlaku pada masyarakat di kota Denpasar, yang walaupun telah mengalami pergesekan budaya sebenarnya tetap mementingkan aspek ini dalam penataan permukimannya.

  • Unfoldingness

Sense yang bagus, idealnya :

1. Ada batasan sampai sejauh mana individu ingin membatasi pengetahuan orang lain tentang dirinya.

2. Permukiman harus memungkinkan pembukaan (unfoldingness) arti struktur tingkat pertama yang sederhana dan paten, yang memungkinkan berkembangnya tingkat struktur berikutnya seiring dengan semakin bertambahnya pengalaman penghuni.

Aplikasi di bidang politik :

Isu politik akan berkisar antara mana yg lebih penting : kemampuan suatu tempat untuk dapat ditangkap oleh indera manusia (sensibility) dalam hubungannya dengan tujuan lain, dengan siapa yang paling membutuhkannya, serta sampai sejauh mana batas yang harus diberikan. Pluralitas pengguna dalam permukiman besar manapun akan selalu menghasilkan masalah teknis. Maka sensibility lebih mudah dicapai dalam lingkungan permukiman berskala kecil dengan penghuni yang homogen.

1 Comment »

  1. Hoho, entah kenapa. Memori gw mendadak berbalik ke suasana itu: menegangkan tapi asyik, deg-degan tapi memacu buat dapat nilai bagus! siapa lagi kalo bukan Bapak kita itu yang “menekan” kita biar jadi seorang master yang rajin baca ;D. Well, kayanya mesti banyak gambar biar ga boring bacanya. Dan yang agak pendek juga biar mata tak capek.

    so, keep writing!!

    Comment by arnet — May 26, 2008 @ 3:21 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: