my city identity

May 10, 2008

kelayakan (fit)

Filed under: good city form — dayutiwi @ 2:44 pm
Tags: , , , ,

Kelayakan (Fit)

Definisi kriteria :

Suatu lingkungan yang baik tergantung dari seberapa baik tingkat kecocokan antara tindakan/aksi sehari-hari, baik disengaja maupun tidak pada satu sisi, dengan bentuk fisik lingkungan di sisi lain.

Cara mencapai kriteria :

Kriteria ini dapat dicapai dengan memodifikasi tempat, atau tingkah laku, atau kedua-duanya.

Dalam penyelaesaian kasus di lapangan, cara meningkatkan kelayakan:

  • Pemisahan (compartmenting) dalam waktu dan ruang,
  • Kontrol terhadap pengguna
  • Perencanaan yang hati-hati
  • Penyesuaian gelombang (tuning)

Lynch juga menambahkan bahwa terdapat beberapa cara formal untuk mencapai kelayakan, seperti melebihkan kapasitas, akses yang baik, kemandirian antara masing-masing bagian, penggunaan modul, pengurangan biaya recycling. Sedangkan cara-cara tambahan adalah : mencari informasi yang lebih baik dalam pengambilan keputusan, perencanaan yang fleksibel, pengenduran dan pembaharuan pol-pola kontrol.

Cara menganalisis kriteria :

Untuk menganalisis kriteria ini, Lynch menyarankan untuk mengobservasi tingkah laku sebenarnya di suatu lokasi tertentu, ditambah dengan diskusi mengenai masalah dan tujuan dari mereka yang mempergunakan lokasi tersebut. Empati dan mata yang tajam adalah alat analisis yang terbaik, sedangkan pengetahuan yang baik mengenai kebudayaan adalah latar belakang yang diperlukan.

Aspek-aspek yang harus dipertimbangkan dalam pengukuran kriteria:

  • Stabilitas dari setting tingkah laku dalam suatu lokasi adalah hal yang penting. Lingkungan yang bertahan lama menstabilkan ekspektasi kita akan pola tingkah laku yang diharapkan sehingga memperkecil ketidakpastian dan konflik.
  • Konflik antara berbagai aktor harus dipertimbangkan. Kreasi lokasi yang baru dan cocok adalah hal yang menarik, di samping perbaikan setting yang telah ada.
  • Fleksibel, sehingga dapat mengantisipasi perubahan di masa yang akan datang. Ini adalah kriteria yang lebih membingungkan, karena sulit untuk mengukurnya dalam pengukuran umum. Sehingga Lynch mengusulkan dua aturan dasar dalam pengukuran tersebut:
  • Manipulability Tingkat dimana kegunaan dan bentuk dapat diubah dalam batas biaya, waktu, kekuatan dan kontinuitas, tanpa mempersempit potensi untuk perubahan di masa datang.
  • Resilience Atau biaya merestorasi sebuah tempat baik kepada keadaan kosong seperti sebelumnya atau kepada keadaannya saat ini setelah mengalami suatu bencan.

Kedua pengukuran ini mengekspresikan pelestarian dua hal yang akan selalu berharga : kemampuan untuk bereaksi dan kemampuan untuk pulih.

Semua cara tersebut mempunyai biaya masing-masing. Stabilitas dan kemampuan manipulasi dari kelayakan pada tingkat tertentu saling bertentangan satu sama lain, tapi ada cara-cara tertentu untuk mengharmoniskan mereka dalam kasus-kasus nyata. Kita dapat melatih orang untuk mengatasi perubahan, dan pilihan beragam yang mereka suka pada saat itu dapat disediakan sebelumnya. Semua variasi pengukuran kelayakan tersebut dapat dipakai dalam perencanaan, desain, manajemen, kontrol, dan evaluasi.

Beberapa hambatan dalam pengukuran kriteria :

Dalam mengukur pelaksanaan kriteria ini, Lynch memakai kriteria dan metoda analisis secara umum, tetapi harus diingat bahwa masing-masing resep hanya berlaku pada kebudayaaan yang spesifik. Beberapa kesulitan yang terjadi bila menggunakan kriteria ini pada skala permukiman : klasifikasi dan standar yang telah menjadi stereotipe, kelipatan setting tingkah laku, variasi kebudayaan, konflik antar pengguna, dan bias data kuantitatif.

Untuk kasus Kota Denpasar :

Dari pengamatan secara umum saya menyimpulkan bahwa kota ini cukup layak, dilihat dari stabilitas setting yang tidak terlalu cepat mengalami perubahan. Dari segi fleksibilitas, kota ini telah terbukti mampu pulih dari perang melawan Belanda, sehingga di masa datang saya cukup yakin bahwa kota ini akan mampu bertahan, bila disertai dengan kontrol pemerintah.

Aplikasi di bidang politik :

Isu politik akan berkisar antara mana yg lebih penting : kemampuan suatu tempat untuk dapat ditangkap oleh indera manusia (sensibility) dalam hubungannya dengan tujuan lain, dengan siapa yang paling membutuhkannya, serta sampai sejauh mana batas yang harus diberikan. Pluralitas pengguna dalam permukiman besar manapun akan selalu menghasilkan masalah teknis. Maka sensibility lebih mudah dicapai dalam lingkungan permukiman berskala kecil dengan penghuni yang homogen.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: