my city identity

December 3, 2009

Kecanduan Mal

Filed under: good city form — dayutiwi @ 8:37 am
Tags: , , ,

Ini menanggapi tulisannya arni di atas, Kota yang Mahal…

Di kota saya ada beberapa lapangan. Dekat rumah saya adasalah satu lapangan seperti ini. Di sore hari kadang-kadang saya mengajak anak saya kesana. Banyak ibu hamil, bapak-bapak, remaja, tua-muda yang jogging maupun sekedar berjalan-jalan disana. Anak-anak main layangan, belajar berjalan, naik sepeda, dan berlari-lari. Anjing-anjing ras dibawa berjalan-jalan oleh pemiliknya. Anak-anak remaja main skateboard di jalan sampingnya. Kelompok-kelompok yoga dan tai-chi berkumpul disini. Anak-anak SMA latihan baris-berbaris di lapangan parkirnya.  Jangan bayangkan lapangan ini seperti Central Park di New York, ya. Lapangan ini hanyalah lapangan luas dengan jogging track dan walking track yang tertata apik di sekelilingnya.Penjual-penjual makanan dan minuman bergerombol di sekelilingnya, memberi kesempatan pengunjung taman untuk makan, minum, dan sekedar bersenda gurau dengan teman-temannya.

Di kota saya juga ada beberapa mal. Tetapi sungguh berbeda dengan mal di ibukota. Mal yang ada di tengah kota kecil, sesak, dan tak nyaman. Mal yang ada di daerah turis pun tak terlalu ramai pengunjung. Di tengah udara yang luar biasa panas, bukan hanya sekali dua kali saya merindukan mal yang biasa saya datangi di ibukota. Mal tempat saya bisa bertemu teman-teman lama dengan ‘hanya’ membayar 100 ribu, tapi puas berteduh dari panasnya cuaca, puas duduk-duduk tanpa harus melakukan apa-apa, puas memandangi interiornya, pemandangan orang-orang yang sengaja berdandan untuk dilihat, dan memandangi barang-barang yang ditawarkan. Walaupun bukan berarti saya membeli sesuatu. Puas untuk sesaat merasakan sebuah dunia impian yang indah, yang jauh dari realita di luar sana, melarikan diri dari panasnya kota dan kerasnya debu jalanan. Dan ya, untuk itu semua saya rela merogoh kocek dan menabung, demi sebuah momen artifisial, daripada puas untuk seumur hidup dengan lapangan yang, walaupun menyehatkan, tapi tidak menjanjikan hal-hal yang ditawarkan mal.

Mal bukan lagi sekedar tempat jual beli barang, tetapi sebuah dunia tersendiri dimana di dalamnya kita bisa mempunyai status, prestise, yang mungkin berbeda dari wajah kita di luarnya. Sebut saya kecanduan, menghianati prinsip-prinsip arsitektur hijau, tapi mau apa lagi? Saya dibesarkan oleh mal. Bukan oleh lapangan-lapangan hijau dan sawah ladang yang menghampar (tapi panasnya luar biasa) . Saya suka kebebasan yang saya peroleh di mal. Tidak perlu menyapa siapapun, tetapi saya bebas berjalan-jalan, membeli atau tidak membeli sesuatu, duduk di cafe dan menulis di laptop, dan bebas menjadi siapapun. Tak ada yang protes. Tak perlu tersenyum sana-sini. Saya suka udara dinginnya yang dikontrol oleh penyejuk udara sentral.

Siapa yang harus disalahkan? Mungkin seharusnya ada keseimbangan dalam suatu kota. Ada Mal yang bagus, tetapi tak boleh melupakan taman dan lapangan hijau. Sehingga penduduk kota punya pilihan. Bagaimanapun, hidup adalah tentang pilihan, bukan?

November 16, 2009

Kota yang Mahal

Filed under: good city form — arniarnie @ 1:53 pm
Tags: ,

Katanya kota itu adalah tempat tinggal yang bisa meningkatkan kualitas hidup warganya. Tapi coba lihat kota saya, dia kini sedang ‘diguncang’ pemilik dana untuk dibangun sebanyak-banyaknya bangunan: ruko, mall, rumah, town house, toko, jalan.. tanpa ada ruang publik yang hijau, yang bisa disambangi kala penat melanda atau ingin bersenda gurau dengan teman.

Semua kebutuhan itu hanya bisa dipenuhi di pusat perbelanjaan.. ruang tertutup ber-AC dan dipenuhi gerai makanan dan kafe (yang tak murah). Jadi, sekarang kalau hanya mau bertemu teman lama harus menyediakan uang setidaknya Rp. 100.000,- (kalau mau tempatnya nyaman). Bukan jumlah yang sedikit bagi mereka yang masih jobseeker atau masih sekolah. Hanya untuk ketawa-ketiwi dan bercerita masa lalu pun harus mengeluarkan uang sebesar itu?

Coba bayangkan di tengah kota ini ada ruang hijau (semacam taman kota) yang disediakan lapangan olahraga, arena bermain, tempat-tempat duduk, dan ruang jajan. Mungkin hanya butuh uang Rp. 10.000,- untuk beli minuman dan makanan ringan. Kangen dengan teman terlunasi dan tempat nyaman pun terpenuhi. Tapi…apa mungkin ini terjadi?

Kalau kota yang seperti ini hanya ada di angan saja, sepertinya saya harus beranjak dari lamunan ini.

Dan menghadapi realitas: kota yang mahal..

 

 

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.