my city identity

November 16, 2009

Kota yang Mahal

Filed under: good city form — arniarnie @ 1:53 pm
Tags: ,

Katanya kota itu adalah tempat tinggal yang bisa meningkatkan kualitas hidup warganya. Tapi coba lihat kota saya, dia kini sedang ‘diguncang’ pemilik dana untuk dibangun sebanyak-banyaknya bangunan: ruko, mall, rumah, town house, toko, jalan.. tanpa ada ruang publik yang hijau, yang bisa disambangi kala penat melanda atau ingin bersenda gurau dengan teman.

Semua kebutuhan itu hanya bisa dipenuhi di pusat perbelanjaan.. ruang tertutup ber-AC dan dipenuhi gerai makanan dan kafe (yang tak murah). Jadi, sekarang kalau hanya mau bertemu teman lama harus menyediakan uang setidaknya Rp. 100.000,- (kalau mau tempatnya nyaman). Bukan jumlah yang sedikit bagi mereka yang masih jobseeker atau masih sekolah. Hanya untuk ketawa-ketiwi dan bercerita masa lalu pun harus mengeluarkan uang sebesar itu?

Coba bayangkan di tengah kota ini ada ruang hijau (semacam taman kota) yang disediakan lapangan olahraga, arena bermain, tempat-tempat duduk, dan ruang jajan. Mungkin hanya butuh uang Rp. 10.000,- untuk beli minuman dan makanan ringan. Kangen dengan teman terlunasi dan tempat nyaman pun terpenuhi. Tapi…apa mungkin ini terjadi?

Kalau kota yang seperti ini hanya ada di angan saja, sepertinya saya harus beranjak dari lamunan ini.

Dan menghadapi realitas: kota yang mahal..

 

 

July 10, 2008

Kota Hijau

Filed under: good city form — arniarnie @ 6:35 pm
Tags: , ,

Pemanasan global menjadi salah satu topik utama dunia yang tak henti dikampanyekan. Pembangunan di kota kemudian secara perlahan menuju pada tren “hijau”. Apa saja dikaitkan dengan adanya wilayah khusus untuk penghijauan. Tengok saja berbagai real estat berlomba menawarkan suasana sejuk dan segar. Atau berbagai perusahaan giat melakukan tanggungjawab sosial (Corporate Social Responsibility ) dan mengkompensasikan kegiatan ekonominya dengan penanaman pohon. Kita boleh saja skeptis dengan apa yang telah dilakukan para pengeruk keuntungan itu. Bahwa kegiatan tersebut dapat semata-mata hanya menjadi “kedok” untuk memperoleh simpati konsumen dan akhirnya mereka mendapat nama baik sebagai penyelamat lingkungan.

 

Terlepas dari itu semua, penyelamatan lingkungan memang harus segera dilakukan. Mengomentari tentang penghijauan, saya menemukan tugas kuliah ketika duduk di Program Pascasarjana Kajian Pengembangan Perkotaan. Judulnya yaitu “Kota Pohon” (Kompas , 30 Maret 2004). Penulis artikel tersebut adalah JJ Rizal, seorang kolomnis tetap sejarah "Batavia Tempo Doeloe" di Moesson Het Indisch Maanblad . Di artikel tersebut ia menceritakan bagaimana sejarah ditanamnya pohon asam sebagai jalur hijau dan kesadaran lingkungan masyarakat Betawi tempo dulu dalam mempertahankan hijau pekarangannya dengan pepohonan. Berikut ini petikan tulisannya:

 

“Pada masa lalu, orang Betawi sangat menyukai halamannya rumahnya dengan menanam pepohonan dan apotek hidup, seperti pohon saga, sirih, dan teleng yang berfungsi untuk menyembuhkan penyakit sariawan, mencret, wasir. Hingga pagar rumah pun tidak memakai pagar besi, melainkan pagar pohon rendah atau pagar bambu. Sehingga dapat dilihat kesadaran dalam memelihara lingkungannya tinggi. Berdasarkan dengan tradisi orang Betawi tersebut dan pentingnya pepohonan, maka Daendels memerintahkan untuk menanam pohon asam sebagai tanaman jalur hijau . Hal tersebut dipertimbangkan bahwa pohon asam memiliki akar pokok kayunya yang sangat kuat, daunnya tidak mudah rontok mengotori jalan dan berumur teramat panjang . Seabad setelah Daendels angkat kaki dari Batavia, jalan-jalan di kota Batavia dipenuhi dengan deretan pohon asam, seperti di Jalan Medan Merdeka, Jalan Veteran, Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Gajah Mada dan jalan Hayam Wuruk. Namun, kenyataan kini yang ada pohon asam telah tinggal cerita, karena keberadaannya yang tidak banyak dipelihara dan ditebang untuk kebutuhan infrastruktur dan permukiman

 

Kekhawatiran Rizal terbukti. Saat ini apakah kita masih melihat pohon (bukan saja pohon asam) berdiri kokoh sebagai jalur hijau? Di Jalan Raya Margonda, Depok, misalnya. Jalur hijau hanya diganti dengan pot kembang yang berdaun kecil dan pastinya tidak mampu menyerap karbondioksida dari kendaraan yang jumlahnya tak sedikit. Jalur hijau di tepi jalan kini berubah menjadi tempat PKL atau sebagai lokasi papan reklame. Kondisi seperti ini seharusnya membuka pemikiran yang inovatif para perencana kota dan bangunan, bagaimana mengkompensasi kebutuhan lahan hijau tersebut.

 

Jadi yang bisa kita perbuat sebagai penghuni kota? Bila di rumah kita belum ada pohon, mulailah menanam satu atau dua batang pohon setiap bulan. Dengan begitu, disamping menghijaukan lingkungan, kita pun bisa melestarikan budaya lokal (baca: Betawi) dalam hal menanam pohon, seperti yang diceritakan oleh Rizal. Terdengar mudah ya, hanya menanam pohon. Tapi kalau semua orang menyadari pentingnya penghijauan (termasuk pemerintah kota), maka lahan untuk ruang hijau kota layak dipertanyakan. Apakah sudah sesuai dengan UU Penataan Ruang No 26 Tahun 2007?

 

Bila kita merasa belum bisa berbuat banyak buat lingkungan kota. Mulailah dari rumah sendiri. Hijaukan taman kita (semungil apapun itu) dan nikmati kesejukan yang tidak perlu dibayar mahal! (nie)

       

           

July 9, 2008

Pilgub Bali : Pastika Menang

Filed under: good city form — dayutiwi @ 7:30 pm

Metrotvnews.com, Jakarta: Pasangan I Made Mangku Pastika-Anak Agung Puspayoga menangkan Pilkada Bali dipastikan memenangkan Pilkada Bali yang berlangsung hari ini Rabu (9/7). Pasangan yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini menang Pilkada versi quick count atau perhitungan cepat suara Lembaga Survei Indonesia (LSI).

Dari 90,75 persen TPS yang masuk dengan 76,77 persen tingkat partisipasi pemilih, pasangan Pastika-Puspayoga memperoleh 54,66 persen suara. Pasangan Gede Winasa-Alit Putra memperoleh 19,08 persen suara. Sementara pasangan Cok Budi Suryawan Nyoman Gede Suweta meraup 25,81 persen suara.

pastika

Wah, mudah-mudahan selain masalah keamanan Pak Mangku Pastika juga memperhatikan masalah tata ruang di Bali, seperti kampanye-kampanye sebelumnya.

atau mungkin akan ada tata ruang berstandar keamanan internasional di Bali ;)

kita lihat saja nanti…

Selamat sore Jakarta!

Filed under: good city form — arniarnie @ 6:19 pm
Tags: , ,

Jalan-jalan sore melintasi Sudirman yang ramai, asyik juga! Meskipun mesti hati-hati berjalan agar tidak tersenggol para pejalan kaki lainnya. Mereka terlihat begitu terburu-buru. Mungkin takut tertinggal bus kota atau trans jakarta yang saat ini terlihat makin jarang (kenapa ya?)

Meski tersengat sinar matahari sore, tapi tetap saja Jalan Sudirman memiliki pemandangan kota yang unik. Apalagi kalau bukan ciri gedung tinggi dengan berbagai gaya arsitektur, pepohonan yang masih bertahan (syukurlah), serta kemacetan (!)

Dan sore tetaplah sore. Selalu menyajikan kesejukan tersendiri. Waktunya beristirahat dari pekerjaan untuk kembali ke rumah dan bertemu keluarga.

Selamat sore Jakarta!

May 10, 2008

daftar pustaka good city form

Filed under: good city form — dayutiwi @ 2:55 pm
Tags: , ,

Daftar Pustaka

Danes, Popo, Arsitektur Bali, Dari Kosmik ke Modern, dalam Bali dalam Dua Dunia, Matamerabook, Bali : 2002

Lynch, Kevin, Good City Form, Massachusetts Institute of Technology, Massachusetts : 2000

www.denpasar.go.id

www.badung.go.id

www.bali.go.id

foto dan peta diambil dari www.denpasar.go.id

www.bali.go.id

dan Rama Surya dalam buku Bali dalam Dua Dunia

tabel kesimpulan good city form

Filed under: good city form — dayutiwi @ 2:54 pm
Tags:

Selanjutnya, dalam tabel di bawah ini Kevin Lynch menyebutkan tentang beberapa variasi hipotetis dalam pencapaian dan evaluasi kelima dimensi tersebut, dalam hubungannya dengan variasi dalam situasi sosial.

Keadaan Masyarakat

Vitalitas

(Vitality)

Kepekaan

(Sense)

Kelayakan

(Fit)

Akses

(Access)

Kontrol

(Control)

Kaya Penting bagi keduanya Secara umum lebih dihargai Lebih gampang untuk dicapai tapi lebih kompleks; kelayakan di masa depan bukan hal yang kritis Ada alternatif;keragaman dihargai Penting bagi keduanya
Miskin Lebih kritis dimana pendapatan rendah Arti simbolik tetap dihargai walaupun miskin Lebih sederhana tapi sangat kritis Penting, terutama akses menuju sumber daya dasar
Homogen Penting bagi keduanya Lebih gampang dicapai Lebih gampang dicapai Tidak begitu penting? Tidak begitu penting?
Heterogen Lebih sulit, tapi lebih kaya Lebih kompleks Penting, untuk menghindari pengasingan Penting
Stabil Lebih mudah diwujudkan Lebih mudah dicapai Lebih mudah dicapai Tidak begitu penting Tidak begitu penting
Tidak stabil Lebih sulit pemeliharaannya Lebih sulit Kelayakan saat ini lebih sulit pemeliharaannya,; kelayakan di masa depan penting untuk daya tahan Pentinguntuk daya tahan penting
Terpusat (centralized) Lebih mudah diwujudkan melalui standar dan pengetahuan teknis Digunakan untuk mengekspresikan dan mendukung pendominasian Lebih kecil kemungkinan untuk dicapai; adaptabilitas formal dihargai Memerlukan kontrol Kontrol lokal ditekan
Tidak terpusat (decentralized) Lebih sulit dicapai kecuali melalui kebiasaan yang stabil dan pengetahuan yang meluas Mengekspresikan keberagaman Lebih besar kemungkinan untuk dicapai; manipulability dihargai Tidak begitu kritis Kontrol lokal lebih disukai

Kesimpulan :

Masyarakat kota Denpasar termasuk relatif kaya, sehingga mementingkan vitalitas, sense, kelayakan, akses, dan kontrol. Ia juga termasuk masyarakat yang relatif homogen, stabil dan tidak terpusat (decentralized).

Sifat-sifat masyarakat seperti itu membuat ada kriteria performa yang lebih menonjol dibanding dengan yang lain. Dalam pengamatan saya, kriteria yang paling menonjol di kota ini adalah sense dan fit.

meta kriteria : efisiensi (eficciency) & keadilan (justice)

Filed under: good city form — dayutiwi @ 2:49 pm
Tags: , , , ,

Meta Kriteria

Selain kelima krietria di atas, Lynch juga menambahkan dua kriteria, yang disebutnya sebagai meta kriteria. Kedua kriteria ini saling bertumpukan (overlaped) dengan kelima kriteria di atas. Artinya, masing-masing dari kelima kriteria di atas harus dapat memenuhi meta kriteria ini. Adapun meta kriteria tersebut adalah :

Efisiensi (Efficiency)

Biaya, dalam bentuk benda-benda lain yang dinilai berharga, menciptakan dan memelihara permukiman, untuk tingkat kemampuan menciptakan lingkungan dengan kualitas seperti disebutkan di atas.

Keadilan (Justice)

Cara dimana biaya dan keuntungan lingkungan menyebar di antara orang-orang, berdasarkan pada prinsip-prinsip tertentu seperti ekuitas, kebutuhan, nilai intrinsik, kemampuan membayar, usaha yang dikeluarkan, kontribusi potensial, atau kekuatan. Keadilan adalah kriteria yang menyeimbangkan keuntungan yang diterima masing-masing orang, sementara efisiensi menyeimbangkan keuntungan antara nilai-nilai yang berbeda.

Meta kriteria tersebut berbeda dari lima kriteria sebelumnya. Pertama, mereka tidak ada artinya sampai biaya dan keuntungan telah didefinisikan dengan menyebutkan nilai-nilai dasar yang penting. Kedua, meta kriteria tersebut terlibat dalam masing-masing dimensi dasar, sehingga mereka independen dari dimensi-dimensi tersebut. Dalam setiap kasus, kita bertanya : (1) Berapa biaya (dalam bentuk apapun yang dianggap berharga) untuk mencapai tingkat vitality, sense, fit, akses, dan kontrol? dan (2) Berapa banyak bagian yang diterima oleh masing-masing orang?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, terdapat beberapa alat yang telah disederhanakan untuk mengukur keadilan, yaitu :

1. Memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan paling dasar

2. Memfokuskan pada peraturan ekuiti tentang barang yang kelihatannya menjadi kunci untuk memiliki barang lain

3. Memfokuskan pada kelompok yang paling buruk keadaannya, dan bersikeras bahwa setiap perubahan yang harus setidak-tidaknya meningkatkan keadaan kelompok tersebut.

Aturan distribusi harus kelihatan adil, karena keadilan terletak pada pikiran. Aturan-aturan harus dibuat sejelas mungkin sehingga dapat dimengerti oleh semua orang; stabil, dapat ditebak, dan berkesinambungan dengan pengalaman sekarang dan di masa lalu.

Kesimpulan Efisiensi dan Keadilan untuk kota Denpasar :

Melihat sarana dan prasarana dasar telah cukup dipenuhi, menurut saya efisiensi dan keadilan di kota ini sudah cukup baik.

pemeriksaan (control)

Filed under: good city form — dayutiwi @ 2:47 pm
Tags: , , , ,

Pemeriksaan (Control)

Pengontrolan diarahkan pada ruang-ruang kegiatan, tempat rekreasi, mana yang perlu diperbaiki atau dimodifikasi. Di samping kontrol pengelolaan terhadap siapa yang menggunakan dan bekerja serta siapa saja yang ada di dalamnya. Dengan kata lain, tingkat dimana kegunaan dan akses kepada ruang dan aktivitas, dan kreasi-kreasi mereka, perbaikan, modifikasi, dan manajemen dikontrol oleh mereka yang menggunakan, bekerja, atau tinggal di lokasi tersebut.

Yang menonjol dan khas dari kota Denpasar, dan di Bali pada umumnya, adalah peran kontrol pemerintah yang cukup ketat dalam mempertahankan konsep arsitektur tradisional. Ini yang tidak saya temukan di tempat-tempat lain.

kelayakan (fit)

Filed under: good city form — dayutiwi @ 2:44 pm
Tags: , , , ,

Kelayakan (Fit)

Definisi kriteria :

Suatu lingkungan yang baik tergantung dari seberapa baik tingkat kecocokan antara tindakan/aksi sehari-hari, baik disengaja maupun tidak pada satu sisi, dengan bentuk fisik lingkungan di sisi lain.

Cara mencapai kriteria :

Kriteria ini dapat dicapai dengan memodifikasi tempat, atau tingkah laku, atau kedua-duanya.

Dalam penyelaesaian kasus di lapangan, cara meningkatkan kelayakan:

  • Pemisahan (compartmenting) dalam waktu dan ruang,
  • Kontrol terhadap pengguna
  • Perencanaan yang hati-hati
  • Penyesuaian gelombang (tuning)

Lynch juga menambahkan bahwa terdapat beberapa cara formal untuk mencapai kelayakan, seperti melebihkan kapasitas, akses yang baik, kemandirian antara masing-masing bagian, penggunaan modul, pengurangan biaya recycling. Sedangkan cara-cara tambahan adalah : mencari informasi yang lebih baik dalam pengambilan keputusan, perencanaan yang fleksibel, pengenduran dan pembaharuan pol-pola kontrol.

Cara menganalisis kriteria :

Untuk menganalisis kriteria ini, Lynch menyarankan untuk mengobservasi tingkah laku sebenarnya di suatu lokasi tertentu, ditambah dengan diskusi mengenai masalah dan tujuan dari mereka yang mempergunakan lokasi tersebut. Empati dan mata yang tajam adalah alat analisis yang terbaik, sedangkan pengetahuan yang baik mengenai kebudayaan adalah latar belakang yang diperlukan.

Aspek-aspek yang harus dipertimbangkan dalam pengukuran kriteria:

  • Stabilitas dari setting tingkah laku dalam suatu lokasi adalah hal yang penting. Lingkungan yang bertahan lama menstabilkan ekspektasi kita akan pola tingkah laku yang diharapkan sehingga memperkecil ketidakpastian dan konflik.
  • Konflik antara berbagai aktor harus dipertimbangkan. Kreasi lokasi yang baru dan cocok adalah hal yang menarik, di samping perbaikan setting yang telah ada.
  • Fleksibel, sehingga dapat mengantisipasi perubahan di masa yang akan datang. Ini adalah kriteria yang lebih membingungkan, karena sulit untuk mengukurnya dalam pengukuran umum. Sehingga Lynch mengusulkan dua aturan dasar dalam pengukuran tersebut:
  • Manipulability Tingkat dimana kegunaan dan bentuk dapat diubah dalam batas biaya, waktu, kekuatan dan kontinuitas, tanpa mempersempit potensi untuk perubahan di masa datang.
  • Resilience Atau biaya merestorasi sebuah tempat baik kepada keadaan kosong seperti sebelumnya atau kepada keadaannya saat ini setelah mengalami suatu bencan.

Kedua pengukuran ini mengekspresikan pelestarian dua hal yang akan selalu berharga : kemampuan untuk bereaksi dan kemampuan untuk pulih.

Semua cara tersebut mempunyai biaya masing-masing. Stabilitas dan kemampuan manipulasi dari kelayakan pada tingkat tertentu saling bertentangan satu sama lain, tapi ada cara-cara tertentu untuk mengharmoniskan mereka dalam kasus-kasus nyata. Kita dapat melatih orang untuk mengatasi perubahan, dan pilihan beragam yang mereka suka pada saat itu dapat disediakan sebelumnya. Semua variasi pengukuran kelayakan tersebut dapat dipakai dalam perencanaan, desain, manajemen, kontrol, dan evaluasi.

Beberapa hambatan dalam pengukuran kriteria :

Dalam mengukur pelaksanaan kriteria ini, Lynch memakai kriteria dan metoda analisis secara umum, tetapi harus diingat bahwa masing-masing resep hanya berlaku pada kebudayaaan yang spesifik. Beberapa kesulitan yang terjadi bila menggunakan kriteria ini pada skala permukiman : klasifikasi dan standar yang telah menjadi stereotipe, kelipatan setting tingkah laku, variasi kebudayaan, konflik antar pengguna, dan bias data kuantitatif.

Untuk kasus Kota Denpasar :

Dari pengamatan secara umum saya menyimpulkan bahwa kota ini cukup layak, dilihat dari stabilitas setting yang tidak terlalu cepat mengalami perubahan. Dari segi fleksibilitas, kota ini telah terbukti mampu pulih dari perang melawan Belanda, sehingga di masa datang saya cukup yakin bahwa kota ini akan mampu bertahan, bila disertai dengan kontrol pemerintah.

Aplikasi di bidang politik :

Isu politik akan berkisar antara mana yg lebih penting : kemampuan suatu tempat untuk dapat ditangkap oleh indera manusia (sensibility) dalam hubungannya dengan tujuan lain, dengan siapa yang paling membutuhkannya, serta sampai sejauh mana batas yang harus diberikan. Pluralitas pengguna dalam permukiman besar manapun akan selalu menghasilkan masalah teknis. Maka sensibility lebih mudah dicapai dalam lingkungan permukiman berskala kecil dengan penghuni yang homogen.

kepekaan (sense)

Filed under: good city form — dayutiwi @ 2:39 pm
Tags: , , , ,

Kepekaan (Sense)

Definisi kriteria :

Meliputi bentuk, kualitas dan identitas lingkungan. Hal tersebut dapat dicapai melalui sense of place dengan desain bentuk yang khusus atau suatu kegiatan yang menyentuh hati masyarakat; struktur, suatu rasa yang diciptakan melalui orientasi bentuk-bentuk, landmark, tingkatan tertentu, waktu kejadian, jalan setapak, atau batas pinggiran yang ada.

Maka Lynch menyebutkan sifat dari kriteria ini adalah :

  • Kecocokan (congruence) suatu rangkaian ruang-ruang yang memiliki fungsi yang erat;
  • Transparansi (transparency) segala cara penggunaan teknologi dapat dilakukan secara langsung, baik yang berkaitan dengan kegiatan sosial maupun proses alami.Cara mencapai kriteria :Karena kualitas sense adalah hubungan antara pikiran dan lingkungan fisik, cara mencapainya dapat dibagi dalam 2 cara :
  • merubah bentuk fisik kota
  • merubah konsepsi mental penghuninya

Cara menganalisis kriteria :

Dalam menganalisa sense, kita dapat menganalisa aspek-aspeknya :

1. Secara eksplisit :

  • Identity

Identitas adalah sejauh mana seseorang dapat mengenali suatu tempat sebagai berbeda dari tempat-tempat lain, mempunyai karakter sendiri yang gampang diingat, unik, atau berbeda.

Tempat yang bagus adalah tempat yang dapat diakses oleh semua indera perasa manusia.

Cara pengukuran dan analisis : tes sederhana mengenal, mengingat, dan mendeskripsikan suatu tempat yang ingin kita uji.

Foto di atas adalah identitas kota Denpasar yang sangat melekat dalam pikiran saya. Foto tersebut menggambarkan salah satu sudut Jalan Gajah Mada, yang merupakan jalan protokol di kota ini dengan toko-tokonya yang telah dibangun pada zaman Belanda. Arsitektur pertokoan ini hanya sedikit mengalami perubahan, hanya mengalami penambahan ornbamen pada kolom dan balkonnya. Jalan ini adalah tempat perbelanjaan bagi penduduk lokal, dimana terletak Pasar Badung dan Pasar Kumbasari-pasar tradisional terbesar di kota ini. Bagi saya, inilah citra kota Denpasar yang paling melekat. Bukan citra sebagai kota turis, melainkan kota kecil dengan jajaran tokonya yang kuno.

  • Structure

Arti dalam skala kecil : bagaimana bagian-bagian kecil menyatu membentuk keutuhan bentuk tersebut.

Tes : dengan mensketsa dan membuat peta, deskripsi tentang rute tertentu, wawancara, perkiraan jarak dan arah, dan teknik2 lain.

Arti dalam permukiman skala besar : orientasi, yaitu mengetahui dimana seseorang berada pada saat tertentu, yang mengimplikasikan pengetahuan bagaimana tempat (dan waktu) berhubungan dengan tempat tersebut.

Tes : dengan menanyakan penghuni untuk membuat hubungan sementara, membuat estimasi waktu atau jarak waktu, mendeskripsikan masa lalu dan masa depan tempat tersebut.

  • Congruence

Definisi : kecocokan antara struktur ruang dan struktur bukan ruang.

Dengan kata lain, apakah bentuk abstrak dari suatu tempat cocok dengan bentuk abstrak dari fungsinya, atau ciri-ciri masyarakat penghuninya?

  • Transparency

Sampai sejauh mana penghuni dapat menangkap operasi dari berbagai fungsi-fungsi teknis, aktivitas, proses-proses sosial dan alami yang terjadi dalam permukiman.

Menonton prosesi upacara Bali. Denpasar. Foto menunjukkan seorang wanita penjaga toko di salah satu jalan protokol denpasa, dengan pakaian jeans dan t-shirt menonton arak-arakan upacara yang lewat di depan tokonya.

Tidak di semua tempat pemandangan seperti di atas dapat kita saksikan. Kegiatan ekonomi dan religius berjalan dengan transparan, dapat dilihat oleh setiap orang.

  • Legibility

Sampai sejauh mana penghuni suatu permukiman dapat berkomunikasi secara akurat satu sama lain menggunakan bentuk-bentuk fisik yang simbolik. Contoh : bendera, halaman rumah, papan pengumuman, kolom, pintu gerbang, dsb. Tanda2 ini memberi informasi pada penghuni lain tentang : kepemilikan, status, afiliasi kelompok, barang dan jasa, tingkah laku yang sebaiknya, fungsi-fungsi tersembunyi, dsb.

Struktur sosial yang didominasi oleh kultur agraris yang homogen menimbulkan keseragaman dalam kebutuhan akan bangunan. Masyarakat Bali secara tradisional sudah terbiasa bergotong royong dalam segala hal termasuk dalam pembuatan bangunan, sehingga hasil perwujudan arsitekturnya pun termasuk homogen. Namun perbedaan tampak tetap ada karena dalam realitas keseharian terjadi pengelompokan masyarakat berdasarkan strata sosial atau jabatan tradisional yang m,ensyaratkan perbedaan dalam tata ruang dan pemakaian elemen arsitektur, agar status sosial pemilik suatu bangunan secara visual dapat dengan mudah dikenal. Misalnya rumah seorang kasta tinggi yang disebut puri atau jero langsung bisa dikenali karena ukurannya yang besar dan ornamennya yang pernik dibandingkan dengan rumah-rumah lain. [1] Dengan demikian masyarakat Bali telah menganut prinsip legibility ini secara tradisional.

2. Secara implisit:

  • Significance

Sampai sejauh mana bentuk permukiman tertentu menyimbolkan nilai-nilai dasar , proses kehidupan, atau siklus alam semesta bagi para penghuninya?

Secara makro, tata ruang yang diterapkan dalam perencanaan arsitektur di Bali saat ini benar-benar mengacu pada kebiasaan penataan ruang daerah urban. Tidak ada lagi ruang makro yang dirancang mengikuti pola lama yang cenderung religius seperti misalnya pola pempatatan agung sebagai main core dari suatu tatanan fisik lengkap dengan fasilitas pura sebagai fasilitas rohani, puri sebagai pusat kendali pemerintahan, dan alun-alun sebagai ruang terbuka untuk aktivitas massal masyarakat. Pola sederhana semacam ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk mewadahi kompleksitas sosial ekonomi masyarakat sekarang.

Namun secara mikro, penataan ruang dengan mengikuti pola tradisional masih dipatuhi, terutama oleh mereka yang masih mengusung budaya Bali atau mereka yang memiliki cukup lahan untuk menerapkan pola tata ruang tradisional Bali yang cenderung menuntut lahan besar. Itu pun pada umumnya tidak diikuti secara menyeluruh hanya sebatas menempatkan unit-unit yang dianggap paling penting di dalam suatu compound pada posisinya yang benar menurut aturan tradisional.

Sehingga dapat saya simpulkan bahwa masyarakat Bali pada umumnya masih mementingkan significance dalam bentuk permukimannya. Ini juga berlaku pada masyarakat di kota Denpasar, yang walaupun telah mengalami pergesekan budaya sebenarnya tetap mementingkan aspek ini dalam penataan permukimannya.

  • Unfoldingness

Sense yang bagus, idealnya :

1. Ada batasan sampai sejauh mana individu ingin membatasi pengetahuan orang lain tentang dirinya.

2. Permukiman harus memungkinkan pembukaan (unfoldingness) arti struktur tingkat pertama yang sederhana dan paten, yang memungkinkan berkembangnya tingkat struktur berikutnya seiring dengan semakin bertambahnya pengalaman penghuni.

Aplikasi di bidang politik :

Isu politik akan berkisar antara mana yg lebih penting : kemampuan suatu tempat untuk dapat ditangkap oleh indera manusia (sensibility) dalam hubungannya dengan tujuan lain, dengan siapa yang paling membutuhkannya, serta sampai sejauh mana batas yang harus diberikan. Pluralitas pengguna dalam permukiman besar manapun akan selalu menghasilkan masalah teknis. Maka sensibility lebih mudah dicapai dalam lingkungan permukiman berskala kecil dengan penghuni yang homogen.

Next Page »

Blog at WordPress.com.